Rabu, 09 September 2020
DESINFEKSI (KLORINASI,OZON,UV) - ppt download
DESINFEKSI (KLORINASI,OZON,UV) - ppt download: DESINFEKSI KLORINASI Klorinasi (chlorination) adalah proses pemberian klorin ke dalam air yang telah menjalani proses filtrasi dan merupakan langkah yang maju dalam proses purifikasi air. Banyak digunakan dalam pengolahan limbah industri, air kolam renang, dan air minum di negara-negara sedang berkembang karena sebagai desinfektan, biayanya relatif murah, mudah, dan efektif
Kamis, 30 Januari 2020
SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM - ppt download
SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM - ppt download: DEFINIISI Tempat – tempat umum adalah : suatu tempat dimana orang banyak berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara insidentil maupun secara terus menerus.
Selasa, 11 April 2017
Rabu, 17 Oktober 2012
Penanganan Tinja
FAKTOR YG PERLU DIPERHATIKAN DLM PENANGANAN TINJA
Oleh : Zulfikar, MPH
Faktor Teknis
a. Dekomposisi tinja
terjadi secara alamiah, sehingga akan berubah menjadi bahan yang stabil, tidak berbau, dan tidak mengganggu. Aktivitas utama proses dekomposisi:
Pemecahan senyawa organik kompleks, seperti protein dan urea, menjadi bahan yang lebih sederhana dan lebih stabil. Pengurangan volume dan massa (sampai
80%) dengan hasil gas metan, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen yang dilepaskan
ke atmosfer, bahan-bahan yang terlarut dalam keadaan tertentu meresap ke dalam tanah di bawahnya. Penghancuran organisme patogen yang dalam beberapa hal tidak mampu hidup dalam proses dekomposisi, atau diserang oleh banyak jasad renik di dalam massa yang tengah mengalami dekomposisi. berlangsung dalam suasana aerobik atau anaerobik. Proses anaerobik tersebut misalnya terjadi pada kakus air (aqua privy),
tangki pembusukan (septic tank),
atau pada dasar lubang yang dalam. Atau dapat pula terjadi secara aerobik, seperti pada dekomposisi tertentu. Di samping itu, dekomposisi dapat terdiri lebih dari satu tahap, sebagian aerobik dan sebagian lagi anaerobik, tergantung pada kondisi fisik yang ada. Sebagai contoh, proses anaerobik berlangsung dalam septic tank, effuent cair meresap ke dalam tanah melalui saluran peresapan dan meninggalkan banyak bahan organik pada lapisan atas tanah. Bahan organik itu diuraikan secara aerobik oleh bakteri saprofit yang mampu menembus tanah sampai kedalaman 60 cm
b. Kuantitas
tinja manusia
Kebiasaan makan
•Kondisi kesehatan
•Kondisi psikologis
•Kehidupan agama
•Kondisi sosek
•Kebiasaan hidup
c. Pencemaran tanah dan air tanah
d. Penempatan sarana pembuangan tinja
•Tidak
ada aturan pasti
•Bagian
yg lebih rendah
•Jarak
min 15 m apabila pd daerah yg lebih tinggi
•Pada
tanah berpasir dan lbh rendah jarak bisa 7,5 m
•Dasar
panampung 3 m diatas permukaan air tanah
Jika tanah karang/ kapur kemungkinan pencemaran lbh tinggi
e. Perkembangbiakan lalat pd tinja
Fototropis
positif (autofototropik)
•Membuat
perangkap dari botol yg dimasukkan ke dlm lobang
•Memasukkan
desinfektan
•Memasukkan
larvasida (sodium arsenit)
•Menyemprot
jamban dg pestisida
f. Penutup lubang
•Mencegah
masuknya lalat
•Mengurangi
bau
•Malas
menutup kembali
•Terjadi
pengembunan
•Tutup
yg tdk diengsel mudah hilang
g. Aspek Teknis
2. Faktor
non teknis
a.Manusia
•Tipe
jamban yg disukai
•Masalah
privasi
•Pemisahan
wanita dan pria
•Jumlah
jamban utk tpt umum
b.Biaya
•Relatif
(Murah pembangunan, mahal pemeliharaan)
Sabtu, 06 Oktober 2012
Typhoid Fever in Ngemplak
ENVIRONMENTAL SANITATION AND PERSONAL HYGIENE AND THE INCIDENCE OF TYPHOID FEVER AT SUBDISTRICT OF NGEMPLAK DISTRICT OF BOYOLALI 2010
Zulfikar1, Adi Heru Sutomo2, Susi Iravati2
ABSTRACT
Background: Typhoid fever is a disease caused by Salmonella typhi bacterial infection. The disease is still a public health problem particularly in developing countries. It is closely related with unhealthy environmental sanitation condition and poor practice of personal hygiene. In Indonesia, the disease is very endemic and occurs throughout the year in all regions. Subdistrict of Ngemplak is a subdistrict at the District of Boyolali that has the highest cases, i.e. 656 cases in 2009 or nearly 44% of all cases at the district with mortality as much as 9.26 per 1,000 population. This figure is higher than the overage rate of typhoid fever incidence in Indonesia; i.e. 5 per 1.000 population a year.
Objective: To analyze association between environmental sanitation and personal hygiene and the incidence of typhoid fever.
Method: This observational study used a case control study design. Subject of the study consisted of 134 people comprising 67 people as cases and 67 as control. The study was undertaken at Subdistrict of Ngemplak, District of Boyolali. Data analysis used chi square test with α=0.05, OR calculation and logistic regression test.
Result: The result of multivariate analysis showed variables significantly associated with the incidence of typhoid fever were quality of toilet (OR=3.438; 95% CI=1.573-7.513; p=0.002), hand washing before eating (OR=2.915; 95% CI=1.333-6.375; p=0.007); history of typhoid fever disease of the family (OR=2.961; 95% CI=1.115-7.861; p=0.029) and habit of eating out (OR=2.350; 95%CI=1.036-5.332; p=0.041).
Conclusion: Toilet that met sanitation requirement, handwashing using soap before eating, habit of eating out and history of typhoid fever disease in the family had significant association with the incidence of typhoid fever. Clean water facilities that met the requirement and habit of toiletting had no significant association with the incidence of typhoid fever.
Keywords: typhoid fever, environmental sanitation, personal hygiene
1. Health Polytechnic, Banda Aceh
2. Graduate Program in Environmental Health, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University
Selasa, 25 September 2012
Risbinakes 2009
ANALISIS KONDISI SANITASI LINGKUNGAN RUMAH PENDERITA PENYAKIT KECACINGAN PADA ANAK SD NEGERI 71 KOTA BANDA ACEH
TAHUN 2009
Kartini1, Saidin Nur2, Zulfikar3
ABSTRAK
Kasus kecacingan umumnya terjadi pada anak-anak yang disebabkan oleh karena kurangnya sanitasi dan perilaku hidup yang bersih dan sehat. Faktor terpenting dari upaya pencegahan cacingan adalah upaya menjaga kebersihan hidup dan sarana sanitasi. Untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian dan pencegahan dari faktor sanitasi tersebut seperti penggunaan jamban, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah rumah tangga, sanitasi makanan dan minuman, pengendalian vektor serta kebersihan rumah dan halaman rumah. Sekolah dasar Negeri 71 merupakan salah satu sekolah dasar di Kota Banda Aceh . Hasil survey kecacingan pada anak sekolah dasar yang dilakukan Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yaitu yaitu 56,9%. ( Dinkes NAD, 2005). Berdasarkan pengamatan awal peneliti terhadap murid SD Negeri 71 Banda Aceh tampak beberapa anak terlihat ciri – ciri menderita cacingan di mana mata mereka tampak cekung, badan kurus, dan jika didalam kelas menurut pendapat guru mereka tampak lesu dan mengantuk tentu saja ini dapat menyebabkan mereka kurang tanggap dalam menerima pelajaran. Dan menurut murid mereka pernah mendapat obat cacing dari Puskesmas dan ada beberapa orang yang ketika buang air besar terdapat cacing dalam kotoranya.
Jenis penelitian ini adalah bersifat diskriptif analitik yaitu ingin mengethaui hubungan antara antara keadaan sanitasi rumah penderita dengan penyakit kecacingan pada anak SD Negeri 71 Kota Banda Aceh tahun 2009 dengan desain cross sectional, yang menjadi populasi adalah seluruh murid SDN 71 Banda Aceh yaitu 180 siswa dan diambil sampel dengan teknik random sampling sebanyak 65 siswa. Data diperoleh dari sekolah dan puskesmas serta melakukan observasi dengan menggunakan check list. Data diolah dengan uji chi-square dan menggunakan program komputer SPPS Versi 12,0 for Windows. Dengan ketentuan Ho diterima jika P<0,05 dan Ho ditolak jika P> 0,05 serta disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Hasil penelitian menunjukkan tiga variabel yang diteliti bermakna secara statistik dan mempunyai hubungan dengan terjadinya penyakit kecacingan pada anak SD P Value < 0,05 yaitu pembuangan tinja (P=0,000), sanitasi makanan dan minuman (P=0,001) dan kebersihan rumah dan halaman rumah (P=0,029) serta tiga variabel lainnya tidak bermakna secara statistik P Value > 0,05 yaitu penyediaan air bersih(P=0,107), pembuangan limbah rumah tangga (P=0,052), vektor penular penyakit (P=0,223).
Diharapkan kepada orang tua siswa untuk dapat meningkatkan kualitas sanitasi dan sarana sanitasi yang ada di rumah maupun di lingkungannya, kepada penyelenggara pendidikan dan pihak terkait agar lebih mengutamakan sarana sanitasi di sekolah, seperti jumlah jamban dan kamar mandi dan guru merupakan pengendali kedua setelah orang tua dalam mengontrol perilaku anak, jadi sangat diharapkan peran guru agar anak - anak terhidar dari penyakit kecacingan.
1,2,3Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Aceh
Rabu, 02 November 2011
Kecelakaan Kerja
KECELAKAAN KERJA
oleh:
Zulfikar,SKM
1.Pengertian
Kecelakaan Kerja (accident)
adalah suatu kejadiaan atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses
Keadaan hampir celaka (incident)
adl suatu kejadian yg tdk diinginkan dmn dg keadaan yg sedikit berbeda akan mengakibatkan bahaya.
Kecelakaan kerja dibagi 2:
•Industrial Accident (kecelakaan industri)
yaitu kecelkaan yg terjadi ditempat kerja krn adanya sumber bahaya atau bahaya kerja
•Community Accident (kecelakaan dalam perjalanan)
yaitu kecelakaan yg terjadi diluar tempat kerja yg berkaitan dg adanya hubungan kerja
Jenis kecelakaan:
Terjatuh, tertimpa, terjepit, terkena arus listrik dan gerakan2 yg salah
penyebab kecelakaan
1.Unsafe Action/ Substandard Practices
yaitu tingkah laku atau perbuatan yang akan menyebabkan kecelakaan
contoh:
Mengoperasikan alat tanpa wewenang
Gagal/ lupa memberikan peringatan
Gagal/ lupa untuk mengamankan
Bekerja dengan kecepatan yang salah
Memindahkan alat – alat keselamatan
Menggunakan alat dg cara yg salah
Tidak memakai APD dg benar
Memperbaiki alat yg sedang berjalan/hidup
Bersenda gurau ditempat kerja
Mengangkat, menyusun, meletakkan secara salah
2. Unsafe Condition/ Substandard condition
yaitu keadaan yang akan menyebabkan kecelakaan, contoh:
Peralatan pengamanan yg tidak memadai
Bahan dan perlatan yg rusak
Terlalu sesak dan sempit
Tanda peringatan yg kurang memadai
Tempat kerja yg tidak memenuhi syarat/ berbahaya
Jam kerja yg berlebihan
Bahaya2 kebakaran dan ledakan
Pencegahan:
1.Lingkungan Mikro
merupakan tugas masing2 perusahaan tersebut, seperti:
Perencanaan mesin atau peralatan dg memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja
Memperhatikan mutu dan syarat keselamatan dari barang yang dibeli
Pengelolaan barang produksi harus secara benar
Pembuangan bahan buangan harus memperhatikan kemungkinan bahayanya
Penyebaran peringatan scr tertulis yg diikuti dengan pelaksanaannya
Penggunaan standar dan kode yg terbaru dan dapat diandalkan
Menciptakan sistem pengamat
Mengadakan pelatihan K3 kepada karyawan
Penentuan struktur, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab scr jelas dan tegas
2. Lingkungan makro
merupakan tugas pemerintah beserta aparat pelaksananya, seperti:
Memasukkan materi manajemen K3 sbg salah satu mata pelajaran di perguruan tinggi
Menciptakan dan mengawasi pelaksanaan undang2 UU K3 beserta peraturan pelaksanaannya dan menindak tegas setiap pelanggarannya.
Semoga bermanfaat!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
