Senin, 03 Oktober 2022

Karakteristik Lumpur Tinja

Karakteristik lumpur tinja terdiri dari (FSM,2012):

a. Nutrien
Nutrien yang terkandung dalam lumpur tinja berasal dari sisa proses pencernaan makanan manusia. Sisa
proses pencernaan makanan manusia yang berupa feses mengandung 10–20% Nitrogen, 20–50% Fosfor,
dan 10–20% Potasium, dan yang berupa urin mengandung 80–90% Nitrogen, 50–65% Fosfor, dan 50–80%
Potasium (Berger, 1960; Lentner,
et al., 1981; Guyton, 1992; Schouw, et al, 2002; Joensson, et al., 2005;
Vinneras,
et al., 2006).
1) Nitrogen
Konsentrasi nitrogen dalam lumpur tinja umumnya cukup tinggi dengan kisaran 10-100 kali lebih
tinggi dari konsentrasi Nitrogen di air limbah domestik. Nitrogen pada lumpur tinja bisa ditemukan
dalam bentuk Ammonium (NH
4-N), Ammonia (NH3-N), Nitrat (NO3-N), Nitrit (NO2-N), dan N
organik (Mitchell, 1989; Jonsson
et al., 2005).
2) Fosfor
Kandungan fosfor pada lumpur tinja bisa ditemukan dalam bentuk orthofosfat dan fosfat terikat
(Strande
et al., 2012).
b. pH
pH merupakan parameter yang penting dalam pemeriksaan lumpur tinja yang dapat memengaruhi
tahapan stabilisasi biologi. pH lumpur tinja umumnya berkisar 6,5 sampai 8 (Ingalinella,
et al., 2002; Cofie,
et al., 2006; Al-Sa’ed, Hithnawi, 2006), tetapi juga bisa bervariasi dari 1,5 sampai 12,6 (USEPA, 1994). Bila
pH lumpur tinja memiliki nilai di luar kisaran 6 sampai 9, hal ini dapat menghambat proses biologi dan
produksi gas metana pada proses anaerob (Strande
et al., 2012).
c. Padatan
Konsentrasi padatan pada lumpur tinja berasal dari berbagai materi organik
(volatile solid) dan materi
anorganik
(fixed solid), yang berbentuk materi mengapung, mengendap, koloid, dan tersuspensi. Parameter
yang dibutuhkan dalam pengukuran padatan yang terkandung dalam lumpur tinja terdiri dari
total solid
(TS), total suspended solid (TSS) dan total volatile solid (TVS) (Strande, et al., 2012).
d. BOD (
Biological Oxygen Demand)
BOD merupakan parameter yang mengindikasikan kandungan senyawa organik yang dapat terdegradasi
secara biologis. Lumpur tinja umumnya memiliki konsentrasi BOD yang lebih tinggi dari air limbah
domestik.
e. COD (
Chemical Oxygen Demand)
COD merupakan parameter yang mengindikasikan kandungan senyawa organik pada lumpur tinja baik
yang dapat terdegradasi secara biologis maupun non biologis.
f. Minyak dan lemak
Lumpur tinja dapat mengandung minyak dan lemak yang berasal dari minyak rumah tangga, daging,
biji-bijian, dan kacang-kacangan. Parameter minyak dan lemak perlu diperiksa karena minyak dan lemak
dapat menurunkan kemampuan mikroba untuk mendegradasi senyawa organik. Hal ini disebabkan
minyak dan lemak dapat mengurangi kelarutan, meningkatkan lapisan
scum di tangki pengendapan, yang
dapat menyebabkan masalah dalam tahap pengoperasian.

PEDOMAN PERENCANAAN
TEKNIK TERINCI INSTALASI
PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT)
26
g. Pasir dan Kerikil
Pasir dan kerikil dapat meningkatkan potensi penyumbatan pipa dan pompa. Pasir dan kerikil pada
lumpur tinja bisa berasal dari pasir yang terbawa oleh penghuni dan pasir yang terbawa saat banjir.
h. Sampah
Sampah banyak ditemukan dalam lumpur tinja karena keterbatasan informasi mengenai sampah-sampah
yang tidak boleh dibuang ke dalam unit pengolahan setempat, seperti pembalut, popok bayi, kayu, plastik
kemasan, dan lain-lain. Akumulasi sampah pada lumpur tinja dapat mengakibatkan permasalahan dalam
kegiatan pengangkutan lumpur tinja dan pengolahan lumpur tinja. Permasalahan yang dapat timbul antara
lain penyumbatan pada pipa penyedotan lumpur tinja dan gangguan pengolahan di unit pengolahan
lumpur tinja.
i. Patogen
Berikut ini merupakan organisme patogen yang bisa terkandung dalam lumpur tinja:
1) Bakteri Koliform
Bakteri koliform merupakan bakteri yang umumnya ditemukan pada saluran pencernaan manusia.
Bakteri koliform umumnya digunakan menjadi indikator kontaminasi bakteri patogen.
2) Cacing dan Telur Cacing
Telur cacing merupakan salah satu indikator dalam menentukan efektivitas penyisihan organisme
patogen dalam lumpur tinja. Hal ini juga terkait dengan ketahanan telur cacing dalam pengolahan
lumpur tinja. Cacing yang umum ditemukan dalam lumpur tinja terdiri dari
nematode, cestode, dan
trematode. Ketiga jenis cacing ini merupakan parameter yang perlu dipantau karena dapat menginfeksi
manusia. Cacing
Ascaris lumbricoides, merupakan parameter yang paling umum digunakan sebagai
indikator karena kemampuan telurnya untuk bertahan di lingkungan (Nordin,
et al., 2009).
Pengukuran telur cacing di Indonesia pada sampel air limbah domestik merupakan parameter
yang masih belum umum dilaksanakan di laboratorium pengujian di Indonesia. Namun parameter
ini merupakan salah satu parameter yang perlu diuji, walaupun disesuaikan dengan kemampuan
laboratorium yang tersedia pada daerah perencanaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar