Senin, 03 Oktober 2022

Penanganan Lumpur Tinja

 Lumpur tinja mengandung organisme infeksius yang masih bisa bertahan hidup walaupun tinja sudah

mengalami pengolahan di unit pengolahan setempat. Organisme infeksius yang umumnya terkandung
berupa bakteri patogen, telur cacing, dan cacing parasit. Bakteri patogen dapat bertahan hidup hingga dua
minggu, sedangkan telur cacing dan cacing parasit dapat bertahan sampai tiga tahun di lingkungan. Hal ini
menyebabkan lumpur tinja perlu pengolahan dan penanganan yang sesuai dengan kaidah teknis.
Pengelolaan lumpur tinja yang tidak sesuai dengan kaidah teknis dapat menyebabkan transmisi penyakit
kepada manusia. Beberapa pengelolaan lumpur tinja yang tidak sesuai kaidah teknis serta dapat menimbulkan
risiko, antara lain:
a. Pembuangan lumpur tinja ke lingkungan
Lumpur tinja yang dibuang ke badan air permukaan, melalui drainase atau lahan kosong dapat
menyebarkan organisme patogen ke lingkungan dan menyebabkan infeksi kepada manusia yang tinggal di
sekitarnya.
b. Penggunaan lumpur tinja yang belum diolah untuk keperluan pertanian
Lumpur tinja memiliki komposisi nutrien yang baik sebagai pupuk dan pembenah tanah
(soil conditioner),
sehingga pada beberapa daerah lumpur tinja yang telah disedot digunakan secara langsung sebagai
pupuk di area pertanian. Kondisi ini dapat menyebabkan organisme patogen yang terkandung di dalam
lumpur tinja menyebar di area pertanian dan dapat mengkontaminasi para petani serta masyarakat yang
mengkonsumsi hasil pertanian tersebut.
c. Penanganan lumpur tinja tanpa Alat Pelindung Diri (APD)
Penanganan lumpur tinja oleh pekerja dilaksanakan sesuai dengan tahapan yang terdiri dari penyedotan,
pengangkutan, dan pengolahan lumpur tinja. Pekerja yang tidak menggunakan APD dapat terpapar atau
terkena kontak langsung dengan lumpur tinja pada setiap tahapan penanganan lumpur tinja, sehingga
berisiko tinggi terkena infeksi dari organisme yang terkandung di dalam lumpur tinja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar