Rabu, 17 Oktober 2012

Penanganan Tinja


FAKTOR YG PERLU DIPERHATIKAN DLM PENANGANAN TINJA

Oleh : Zulfikar, MPH
Faktor Teknis
a. Dekomposisi tinja
  terjadi secara alamiah, sehingga akan berubah menjadi bahan yang stabil, tidak berbau, dan tidak mengganggu. Aktivitas utama proses dekomposisi:
        Pemecahan senyawa organik kompleks, seperti protein dan urea, menjadi bahan yang lebih sederhana dan lebih stabilPengurangan volume dan massa (sampai 80%) dengan hasil gas metan, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen yang dilepaskan ke atmosfer, bahan-bahan yang terlarut dalam keadaan tertentu meresap ke dalam tanah di bawahnyaPenghancuran organisme patogen yang dalam beberapa hal tidak mampu hidup dalam proses dekomposisi, atau diserang oleh banyak jasad renik di dalam massa yang tengah mengalami dekomposisi. berlangsung dalam suasana aerobik atau anaerobik. Proses anaerobik tersebut misalnya terjadi pada kakus air (aqua privy), tangki pembusukan (septic tank), atau pada dasar lubang yang dalam. Atau dapat pula terjadi secara aerobik, seperti pada dekomposisi tertentuDi samping itu, dekomposisi dapat terdiri lebih dari satu tahap, sebagian aerobik dan sebagian lagi anaerobik, tergantung pada kondisi fisik yang ada. Sebagai contoh, proses anaerobik berlangsung dalam septic tankeffuent cair meresap ke dalam tanah melalui saluran peresapan dan meninggalkan banyak bahan organik pada lapisan atas tanah. Bahan organik itu diuraikan secara aerobik oleh bakteri saprofit yang mampu menembus tanah sampai kedalaman 60 cm
b. Kuantitas tinja manusia
Kebiasaan makan
Kondisi kesehatan
Kondisi psikologis
Kehidupan agama
Kondisi sosek
Kebiasaan hidup
c. Pencemaran tanah dan air tanah
d. Penempatan sarana pembuangan tinja
Tidak ada aturan pasti
Bagian yg lebih rendah
Jarak min 15 m apabila pd daerah yg lebih tinggi
Pada tanah berpasir dan lbh rendah jarak bisa 7,5 m
Dasar panampung 3 m diatas permukaan air tanah
Jika tanah karang/ kapur kemungkinan pencemaran lbh tinggi
e. Perkembangbiakan lalat pd tinja
Fototropis positif (autofototropik)
Membuat perangkap dari botol yg dimasukkan ke dlm lobang
Memasukkan desinfektan
Memasukkan larvasida (sodium arsenit)
Menyemprot jamban dg pestisida
f. Penutup lubang
Mencegah masuknya lalat
Mengurangi bau
Malas menutup kembali
Terjadi pengembunan
Tutup yg tdk diengsel mudah hilang
g. Aspek Teknis

2. Faktor non teknis
a.Manusia
Tipe jamban yg disukai
Masalah privasi
Pemisahan wanita dan pria
Jumlah jamban utk tpt umum
b.Biaya
Relatif (Murah pembangunan, mahal pemeliharaan)



Sabtu, 06 Oktober 2012

Typhoid Fever in Ngemplak


ENVIRONMENTAL SANITATION AND PERSONAL HYGIENE AND THE INCIDENCE OF TYPHOID FEVER AT SUBDISTRICT OF NGEMPLAK DISTRICT OF BOYOLALI 2010
Zulfikar1, Adi Heru Sutomo2, Susi Iravati2

ABSTRACT
Background: Typhoid fever is a disease caused by Salmonella typhi bacterial infection. The disease is still a public health problem particularly in developing countries. It is closely related with unhealthy environmental sanitation condition and poor practice of personal hygiene. In Indonesia, the disease is very endemic and occurs throughout the year in all regions. Subdistrict of Ngemplak is a subdistrict at the District of Boyolali that has the highest cases, i.e. 656 cases in 2009 or nearly 44% of all cases at the district with mortality as much as 9.26 per 1,000 population. This figure is higher than the overage rate of typhoid fever incidence in Indonesia; i.e. 5 per 1.000 population a year.
Objective: To analyze association between environmental sanitation and personal hygiene and the incidence of typhoid fever.
Method: This observational study used a case control study design. Subject of the study consisted of 134 people comprising 67 people as cases and 67 as control. The study was undertaken at Subdistrict of Ngemplak, District of Boyolali. Data analysis used chi square test with α=0.05, OR calculation and logistic regression test.
Result: The result of multivariate analysis showed variables significantly associated with the incidence of typhoid fever were quality of toilet (OR=3.438; 95% CI=1.573-7.513; p=0.002), hand washing before eating (OR=2.915; 95% CI=1.333-6.375; p=0.007); history of typhoid fever disease of the family (OR=2.961; 95% CI=1.115-7.861; p=0.029) and habit of eating out (OR=2.350; 95%CI=1.036-5.332; p=0.041).
Conclusion: Toilet that met sanitation requirement, handwashing using soap before eating, habit of eating out and history of typhoid fever disease in the family had significant association with the incidence of typhoid fever. Clean water facilities that met the requirement and habit of toiletting had no significant association with the incidence of typhoid fever.

Keywords: typhoid fever, environmental sanitation, personal hygiene

1. Health Polytechnic, Banda Aceh
2. Graduate Program in Environmental Health, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University

Selasa, 25 September 2012

Risbinakes 2009


ANALISIS KONDISI SANITASI LINGKUNGAN RUMAH PENDERITA PENYAKIT KECACINGAN PADA ANAK SD NEGERI 71 KOTA BANDA ACEH 
TAHUN 2009

Kartini1, Saidin Nur2, Zulfikar3

ABSTRAK

Kasus kecacingan umumnya terjadi pada anak-anak yang disebabkan oleh karena kurangnya sanitasi dan perilaku hidup yang bersih dan sehat. Faktor terpenting dari upaya pencegahan cacingan adalah upaya menjaga kebersihan hidup dan sarana sanitasi. Untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian dan pencegahan dari faktor sanitasi tersebut seperti penggunaan jamban, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah rumah tangga, sanitasi makanan dan minuman, pengendalian vektor serta kebersihan rumah dan halaman rumah. Sekolah dasar Negeri 71 merupakan salah satu sekolah dasar di Kota Banda Aceh . Hasil survey kecacingan pada anak sekolah dasar yang dilakukan Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yaitu  yaitu 56,9%. ( Dinkes NAD, 2005). Berdasarkan pengamatan awal peneliti terhadap murid SD Negeri 71 Banda Aceh tampak beberapa anak terlihat ciri – ciri menderita cacingan di mana mata mereka tampak cekung, badan kurus, dan jika didalam kelas menurut pendapat guru mereka tampak lesu dan mengantuk tentu saja ini dapat menyebabkan mereka kurang tanggap dalam menerima pelajaran. Dan menurut murid mereka pernah mendapat obat cacing dari Puskesmas dan ada beberapa orang yang ketika buang air besar terdapat cacing dalam kotoranya.
Jenis penelitian ini adalah bersifat diskriptif analitik yaitu ingin mengethaui hubungan antara antara keadaan sanitasi rumah penderita dengan penyakit kecacingan pada anak SD Negeri 71 Kota Banda Aceh tahun 2009 dengan desain cross sectional, yang menjadi populasi adalah seluruh murid SDN 71 Banda Aceh yaitu 180 siswa dan diambil sampel dengan teknik random sampling sebanyak 65 siswa. Data diperoleh dari sekolah dan puskesmas serta melakukan observasi dengan menggunakan check list. Data diolah dengan uji chi-square dan menggunakan program komputer SPPS Versi 12,0 for Windows. Dengan ketentuan Ho diterima jika P<0,05 dan Ho ditolak jika P> 0,05 serta disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Hasil penelitian menunjukkan tiga variabel yang diteliti bermakna secara statistik dan mempunyai hubungan dengan terjadinya penyakit kecacingan pada anak SD P Value < 0,05 yaitu pembuangan tinja (P=0,000), sanitasi makanan dan minuman (P=0,001) dan kebersihan rumah dan halaman rumah (P=0,029) serta tiga variabel lainnya tidak bermakna secara statistik P Value > 0,05 yaitu penyediaan air bersih(P=0,107), pembuangan limbah rumah tangga (P=0,052), vektor penular penyakit (P=0,223).
Diharapkan kepada orang tua siswa untuk dapat meningkatkan kualitas sanitasi dan sarana sanitasi yang ada di rumah maupun di lingkungannya, kepada penyelenggara pendidikan dan pihak terkait agar lebih mengutamakan sarana sanitasi di sekolah, seperti jumlah jamban dan kamar mandi dan guru merupakan pengendali kedua setelah orang tua dalam mengontrol perilaku anak, jadi sangat diharapkan peran guru agar anak - anak terhidar dari penyakit kecacingan.


1,2,3Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Aceh

Rabu, 02 November 2011

Kecelakaan Kerja

KECELAKAAN KERJA
oleh:
Zulfikar,SKM
1.Pengertian
Kecelakaan Kerja (accident)
  adalah suatu kejadiaan atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses
Keadaan hampir celaka (incident)
  adl suatu kejadian yg tdk diinginkan dmn dg keadaan yg sedikit berbeda akan mengakibatkan bahaya.
  Kecelakaan kerja dibagi 2:
Industrial Accident (kecelakaan industri)
  yaitu kecelkaan yg terjadi ditempat kerja krn adanya sumber bahaya atau bahaya kerja
Community Accident (kecelakaan dalam perjalanan)
  yaitu kecelakaan yg terjadi diluar tempat kerja yg berkaitan dg adanya hubungan kerja
 
  Jenis kecelakaan:
  Terjatuh, tertimpa, terjepit, terkena arus listrik dan gerakan2 yg salah
penyebab kecelakaan
1.Unsafe Action/ Substandard Practices
  yaitu tingkah laku atau perbuatan yang akan menyebabkan kecelakaan
  contoh:
Mengoperasikan alat tanpa wewenang
Gagal/ lupa memberikan peringatan
Gagal/ lupa untuk mengamankan
Bekerja dengan kecepatan yang salah
Memindahkan alat – alat keselamatan
Menggunakan alat dg cara yg salah
Tidak memakai APD dg benar
Memperbaiki alat yg sedang berjalan/hidup
Bersenda gurau ditempat kerja
Mengangkat, menyusun, meletakkan secara salah
2. Unsafe Condition/ Substandard condition
  yaitu keadaan yang akan menyebabkan kecelakaan, contoh:
Peralatan pengamanan yg tidak memadai
Bahan dan perlatan yg rusak
Terlalu sesak dan sempit
Tanda peringatan yg kurang memadai
Tempat kerja  yg tidak memenuhi syarat/ berbahaya
Jam kerja yg berlebihan
Bahaya2 kebakaran dan ledakan
Pencegahan:
1.Lingkungan Mikro
  merupakan tugas masing2 perusahaan tersebut, seperti:
Perencanaan mesin atau peralatan dg memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja
Memperhatikan mutu dan syarat keselamatan dari barang yang dibeli
Pengelolaan barang produksi harus secara benar
Pembuangan bahan buangan harus  memperhatikan kemungkinan bahayanya
Penyebaran peringatan scr tertulis yg diikuti dengan pelaksanaannya
Penggunaan standar dan kode yg terbaru dan dapat diandalkan
Menciptakan sistem pengamat
Mengadakan pelatihan K3 kepada karyawan
Penentuan struktur, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab scr jelas dan tegas
2. Lingkungan makro
  merupakan tugas pemerintah beserta aparat pelaksananya, seperti:
Memasukkan materi manajemen K3 sbg salah satu mata pelajaran di perguruan tinggi
Menciptakan dan mengawasi pelaksanaan undang2 UU K3 beserta peraturan pelaksanaannya dan menindak tegas setiap pelanggarannya.
Semoga bermanfaat!!!!

ujian kompetensi tenaga kesehatan lingkungan (kesling)

PENGUMUMAN


Sehubungan dengan adanya pemutihan ujian kompetensi bagi profesi kesehatan lingkungan, maka bagi seluruh alumni kesehatan lingkungan yang lulus tahun 2011 atau sebelumnya (SPPH, APK, APKTS, AKL, JKL, Peminatan KL, Profesi) baik program D1, D3, D4 dan Profesi untuk mendaftar ke Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes NAD dengan persyaratan sebagai berikut:

1. Foto copy ijazah yang dilegalisir 4 lbr.

2. Pas foto 4x6 cm = 4 lbr, latar merah

Berkas tersebut diserahkan kepada Bapak Teuku Cut, ST, paling lambat sampai dengan tanggal 15 November 2011

Demikian pengumuman ini dibuat agar dapat dimaklumi.

Senin, 31 Oktober 2011

Persyaratan Kualitas Air Minum

PERSYARATAN PENYEDIAAN AIR BERSIH
Oleh: Zulfikar, SKM, MPH.
POLITEKNIK KESEHATAN NANGGROE ACEH DARUSSALAM JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PERSYARATAN PENYEDIAAN AIR
Persyaratan Kaulitas, kuantitas dan kontinuitas
A.Persyaratan Kualitas
beberapa pengertian:
•Kadar maksimum yang diperbolehkan
adalah konsentrasi maksimum yang masih dibolehkan dari unsur – unsur didalam air/ konsentrasi tertinggi yang boleh terdapat dalam air
•Air minum
adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
•Air bersih
adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
•Beberapa regulasi
1.PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air
2.KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 907/MENKES/SK/VII/2002 TENTANG SYARAT-SYARAT DAN PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM
3.PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 492/MEN.KES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air minum
1. Persyaratan fisik
• Warna
Air minum sebaiknya tidak berwarna (jernih)
warna dalam air dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
- Warna sesungguhnya (true color) yg disebabkan oleh bahan2 kimia terlarut
- Warna tampak (apparent color) tidak hanya disebabkan bahan terlarut tp juga bahan tersuspensi
warna dapat disebabkan oleh ekstrak zat warna dari humus yg berasal dari hutan/tanaman rawa, organisme, limbah buangan dan zat2 kimia lainnya.
- warna coklat : Fe berlebihan
- warna hijau : phytoplankton
- keruh kecoklatan : kadar lumpur yang tinggi dan bahan organik
- coklat kehitaman : mangan tinggi
- kehijauan : kalsium karbonat (CaCO3)
•Rasa
Air minum sebaiknya tidak berasa (tawar)
rasa asin (payau) disebabkan oleh adanya garam2 tertentu sdgkan rasa asam dsebabkan oleh asam organik maupun anorganik dan rasa pahit dikarenakan adanya unsur Mg yg berlebbihan.
•Bau
Air minum sebaiknya tidak berbau.
air yang berbau busuk mengandung bahan2 organik yg sedang mengalami dekomposisi
Bau juga dapat disebabkan oleh kadar zat kimia yang tinggi serta organisme air
- Anyir : Fe tinggi
- Busuk : H2S tinggi
•Temperatur
air sebaiknya memiliki suhu yg tdk jauh berbeda dg suhu udara, selain pemanasan dari luar suhu juga disebabkan oleh proses dekomposisi
•Kekeruhan
kekeruhan adalah efek optik yg terjadi jika sinar membentuk material tersuspensi dalam air. Disebabkan oleh adanya butiran2 koloid dr tanah dan padatan2 lain dlm air
•Zat padat terlarut (TDS)
adalah zat/benda padat yang larut dan melayang dalam air.
2. Persyaratan Kimiawi
a. Bahan kimia anorganik
•pH  keberadaan ion hidrogen menggambarkan nilai pH yg digunakan untuk menyatakan tingkat keasaaman atau kebasaan air.
Konsep pH pertama kali diperkenalkan oleh kimiawan Denmark pada tahun 1909. Beberapa rujukan mengisyaratkan bahwa p berasal dari singkatan untuk power (pangkat), yang lainnya merujuk kata dr bhs jerman Potenz yang juga berarti pangkat (wikipedia)
nilai pH akan mempengaruhi keberadaan bakteri dan perubahan kimia dlm air.
klasifikasi nilai pH adalah sbb:
- pH = 7 : netral (normal)
- 7<pH<14 : basa
- 0<pH<7 : asam
•Kesadahan (Hardness)
adalah kandungan mineral2 tertentu di dalam air, umumnya kation Ca dan Mg dg valensi dua dan kation lainnya spt stronsium (Sr), ferro dan mangan yg relatif sedikit.
terdapat 2 macam kesadahan:
1. kesadahan sementara Air adalah air yang mengandung anion bikarbonat (HCO3-), atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air sadah sementara dapat dihilangkan dengan pemanasan sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+.
2. Kesadahan tetap adalah air yang mengadung anion selain ion bikarbonat, misalnya ion Cl-, NO3- dan SO42-. contoh kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Kesadahan tetap dpt dihilangkan dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia tertentu spt zeolit maupun resin.
Air sadah mengakibatkan pengendapan mineral shg menyumbat saluran pipa, pemborosan sabun di rumah tangga. air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan sabun (scum) yang sukar dihilangkan.
kadar maks yg dibolehkan 500 mg/l (permenkes 429 th 2010)
•Besi (Fe)
Besi ditemukan dalam bentuk kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada perairan alami dengan pH sekitar 7 dan kadar oksigen terlarut yang cukup, ion ferro yang bersifat mudah larut dioksidasi menjadi ion ferri. Sebaliknya pada reduksi ferri menjadi ferro terjadi pada pH sekitar 7,5 – 7,7. ion ferri mengalami oksidasi dan berikatan dengan hidroksida membentuk Fe(OH)3 yang bersifat tidak larut dan mengendap didasar perairan.
pengedapan ion ferri dapat mengakibatkan warna kemerahan pada substrat dasar spt porselin, bak mandi, pipa air, dan pakaian.
Senyawa besi pada umumnya bersifat sukar larut dan cukup banyak terdapat di dalam tanah. Kelarutan besi meningkat dengan menurunnya pH.
besi dalam air dpt dihilangkan dg cara: aerasi, filtrasi dan koagulasi.
kadar maksimum yg dibolehkan dlm air minum adalah 0,3 mg/l (permenkes 429 th 2010)
•Mangan (Mn)
adalah kation logam yg mempunyai karakteristik kimia serupa dg besi. Mn dlm air terdpat dlm bentuk Manganous (Mn2+) yg bersifat larut dan Manganik (Mn4+) yg dpt mengendap di dasar peraiaran setelah terjadi proses oksidasi dan persipitasi.
Dalam jumlah tertentu Mn dpt bersifat neurotoksik. selain itu Mn dpt mengendalikan kadar unsur toksik dlm air spt logam berat. Mn Jg dpt menyebabkan air bewarna coklat kegelapan dan berbau.
Mn dpt dihilangkan dg cara : aerasi, koagulasi dan filtrasi.
kadar maksimum yg dibolehkan dlm air minum adalah 0,4 mg/l (permenkes 429 th 2010)
•Bahan anorganik beracun spt: sianida, arsen, Hg, Cd, Nitrat (NO3), Nitrit(NO2).
•Bahan anorganik lainnya (NH3, Al, Cl, H2S, SO4, Zn)
b. Bahan Kimia Organik
senyawa kimia yg berasal dr MH, Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung unsur2 lain seperti N,O,P dan S seperti Chlorinated alkanes, Chlorinated ethenes, Aromatic hydrocarbons, Chlorinated benzenes, toluen, benzene, Ethylbenzene, dll
Persyaratan Bakteriologis
•E. Coli
•Total koliform
Persyaratan Radioaktivitas
•Gross alpha activity
•Gross beta activity